Total Pageviews

Monday, April 18, 2016

AKUNTANSI MANAJEMEN SEKTOR PUBLIK

MAKALAH AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
AKUNTANSI MANAJEMEN SEKTOR PUBLIK



Oleh:
Risa Ristanti (2014SA059
Mela Imas Andriani (2014SA30)




SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI
AMANAT AKADEMISI SURAKARTA
(STIE AAS)
SURAKARTA 2016


KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmatnya, sehingga penulisan makalah ini dapat terselesaikan dan telah selesai. Makalah ini berjudul AKUNTANSI MANAJEMEN SEKTOR PUBLIK
 Dengan tujuan penulisan sebagai sumber bacaan yang dapat digunakan untuk memperdalam pemahaman dari materi ini.
Selain itu, penulisan makalah ini tak terlepas pula dengan tugas mata kuliah Kewirausahaan.
 Namun penulis cukup menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran pembaca yang bersifat membangun.

Surakarta,28 Februari 2016
                                                                                                                 
                                                                                                                                                                                                                                          Penulis.           















DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang .....................................................................................        ...4
2. Rumusan Masalah ………………………………………………………....5
3. Tujuan .......................................................................................................... ....5
BAB II PEMBAHASAN
1.    Akuntansi manajemen sektor publik.......................................................7
2.    Akuntansi sebagai alat perencanaan organisasi........................................7
3.    Akuntansi sebagai alat pengendalian organisasi........................................8
4.    Proses perencanaan dan pengendalian manajerial organisasi sektor publik..9
5.    Peran akuntansi manajemen sektor publik...............................................10
BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan .................................................................................................. ......15
DAFTAR PUSTAKA
















BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Definisi akuntansi manajemen menurut Chartered Institute of Management Accountant (1994:30) yaitu: Penyatuan bagian manajemen yang mencakup, penyajian dan penafsiran informasi yang digunakan untuk perumusan strategi, aktivitas perencanaan dan pengendalian, pembuatan keputusan, optimalisasi penggunaan sumber daya, pengungkapan kepada pemilik dan pihak luar, pengungkapan kepada pekerja, pengamanan asset Bagian integral dari manajemen yang berkaitan dengan proses identifikasi penyajian dan interpretasi/penafsiran atas informasi yang berguna untuk:
Peran utama akuntansi manajemen sektor publik adalah menyediakan informasi akuntansi yang akan digunakan oleh manager publik dalam melakukan fungsi perencanaan dan pengendalian organisasi. Informasi akuntansi diberikan sebagai alat atau sarana untuk membantu manager menjalankan fungsi-fungsi manajemen sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Fungsi manajemen, seperti perencanaan, pengkoordinasian, pengorganisasian, dan pengendalian tidak dapat dilakukan tanpa informasi yang memadai. Informasi dalam sebuah organisasi merupakan perekat yang mengikat fungsi-fungsi manajemen dalam sebuah sistem sehingga memungkinkan organisasi bertindak koheren dan harmonis antar berbagai fungsi.
Akuntansi manajemen merupakan bagian dari suatu sistem pengendalian manajemen yang integral. Institute of Managements Accountants (1981) mendefinisikan akuntansi manajemen sebagai suatu proses pengidentifikasian, pengukuran, pengakumulasian, penganalisaan, penyiapan, penginterpretasian, dan pengkomunikasian informasi finansial yang digunakan oleh manajemen untuk perencanaan, evaluasi, dan pengendalian organisasi serta untuk menjamin bahwa sumber daya digunakan secara tepat dan akuntabel.
Pada dasarnya prinsip akuntansi manajemen sektor publik tidak banyak berbeda dengan prinsip akuntansi manajemen yang diterapkan pada sektor swasta. Prinsip-prinsip akuntansi manajemen yang biasa digunakan pada organisasi sektor swasta, seperti manajemen strategik dan manajemen biaya pada dasarnya dapat diterapkan disektor publik. Akan tetapi, harus diingat bahwa sektor publik memiliki perbedaan sifat dan karakteristik dengan sektor  swasta, sehingga penerapan teknik akuntansi manajemen sektor swasta tidak dapat diadopsi secara langsung tanpa modifikasi. Fokus bahasan akuntansi manajemen sektor publik pada bab ini adalah mengenai peran akuntansi sebagai penyedia informasi yang digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas organisasi sektor publik.
Akuntansi manajemen sektor publik berbeda dengan akuntansi keuangan. Akuntansi manajemen sektor publik terkait dengan pemberian informasi kepada pihak intern organisasi, sedangkan akuntansi keuangan terkait dengan pelaporan dan pengkomunikasian informasi kepada pihak eksternal organisasi. Akuntansi manajemen cenderung memberikan laporan yang sifatnya prospektif yaitu digunakan untuk perencanaan dimasa yang akan datang, sedangkan akuntansi keuangan memberikan informasi yang bersifat laporan historis dan retrospektif, yaitu berupa laporan kinerja masa lalu.
Akuntansi sektor publik pada dasarnya dipengaruhi perkembangan pemikiran manajemen. Perkembangan pemikiran ini tidak terlepas dari knowledge management. Knowledge management ini sendiri memengaruhi peran daripada akuntansi manajemen. Pada dasarnya, akuntansi manajemen ini lebih didasari oleh praktik:
  • Factory Accounting.
  • Budgeting.
  • Cost Accounting.
  1. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana penjelasan tentang akuntansi sebagai alat perencanaan organisasi ?
  2. Bagaimana penjelasan akuntansi sebagai alat pengendalian organisasi ?
  3. Bagaimana proses perencanaan dan pengendalian manajerial organisasi sektor publik ?
  4. Bagaimana peran akuntansi manajemen sektor publik ?
  1. Tujuan
1.                  Mampu menjelaskan akuntansi sebagai alat perencanaan organisasi
2.                  Mampu menjelaskan akuntansi sebagai alat pengendalian organisasi
3.    Mampu menjelaskan proses perencanaan dan pengendalian manajerial manajerial organisasi sektor publik
4.                  Mampu menjelaskan peran akuntansi manajemen sektor publik


















BAB II
PEMBAHASAN
  1. Akuntansi Manajemen Sektor Publik
Peran utama akuntansi manajemen sektor publik adalah menyediakan informasi akuntansi yang akan digunakan manajer publik dalam melakukan fungsi perencanaan dan pengendalian organisasi.
Akuntansi manajemen merupakan bagian dari suatu sistem pengendalian manajemen yang integral. Definisi akuntansi manajemen adalah suatu proses pengidentifikasian, pengukuran, pengakumulasian, penganalisaan, penyiapan, penginterpretasian, dan pengkomunikasian informasi financial yang digunakan manajemene untuk perencanaan, evaluasi, dsan pengendalian organisasi serta untuk menjamin bahwa sumber daya digunakan secara tepat dan akuntabel.
Akuntansi manajemen berbeda dengan akuntansi keuangan. Akuntansi manajemen sektor publik terkait dengan pemberian informasi kepada pihak intern organisasi, sedangkan akuntansi keuangan terkait dengan pelaporan dan pengkomunikasian laporan keuangan terhadap pihak eksternal organisasi.

  1. Akuntansi sebagai alat perencanaan organisasi
Perencanaan merupakan cara organisasi menetapkan tujuan dan sasaran organisasi. Perencanaan meliputi aktivitas yang sifatnya strategik, taktis, dan melibatkan aspek operasional. Dalam hal perencanaan organisasi, akuntansi manajemen berperan dalam pemberian informasi historis dan prospektif untuk memfasilitasi perencanaan. Proses perencanaan juga melibatkan aspek perilaku yaitu partisipasi dalam pengembangan sistem perencanaan, penetapan tujuan, dan pemilihan alat yang paling tepat untuk memonitor perkembangan pencapaian tujuan.
Dalam organisasi sektor publik, lingkungan yang mempengaruhi sangat heterogen. Faktor politik dan ekonomi sangat dominan dalam mempengaruhi tingkat kestabilan organisasi. Informasi akuntansi diperlukan untuk membuat prediksi-prediksi dan estimasi mengenai kejadian ekonomi yang akan datang dikaitkan dengan keadaan ekonomi dan politik saat ini.
Informasi akuntansi sebagai alat perencanaan pada dasarnya dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu:
-          Informasi sifatnya rutin ataukah ad hoc;
-          Informasi kuantitatif ataukah kualitatif; dan
-          Informasi disampaikan melalui saluran formal ataukan informal
Informasi akuntansi untuk perencanaan dapat juga dibedakan berdasarkan cara penyampaiannya. Apakah informasi akuntansi tersebut disampaikan melalui mekanisme formal atau informal. Mekanisme formal misalnya adalah melalui rapat-rapat dinas, rapat komisi dan sebagainya. Pada organisasi sektor publik, saluran informasi lebih banyak bersifat formal, sedangkan mekanisme informal relatif jarang dilakukan. Hal tersebut adalah karena adanya balasan transparansi dan akuntabilitas publik yang harus dilakukan oleh lembaga-lembaga publik, sehingga perencanaan tidak dapat dilakukan secara personal atau hanya melibatkan beberapa orang saja.
  1. Akuntansi sebagai Alat Pengendalian Organisasi
Untuk menjamin bahwa strategi untuk mencapai tujuan organisasi dijalankan secara ekonomis, efisien, dan efektif, maka diperlukan suatu sistem pengendalian yang efektif. Pola pengendalian organisasi berbeda-beda tergantung pada jenis dan karakteristik organisasi. Organisasi bisnis karena sifatnya yang berorientasi pada perolehan laba, maka alat pengendaliannya lebih banyak bertumpu pada mekanisme negosiasi (negoated bargain), meskipun hal tersebut bervariasi untuk tiap organisasi dan tingkatan manajemen. Pengendalian untuk manajemen bawah lebih tgas dan memaksa (coercive), sedangkan untuk manajemen level atas lebih bersifat normatif.
Fungsi utama infomasi akuntansi pada dasarnya adalah pengendalian. Informasi akuntansi merupakan alat pengendalian yang vital bagi organisasi karena akuntansi memberikan informasi yang bersifat kuantitatif. Informasi akuntansi umumnya dinyatakan dalam bentuk ukuran finansial, sehingga memungkinkan untuk dilakukan pengintegrasian informasi dari tiap-tiap unit organisasi yang pada akhirnya membentuk gambaran kinerja organisasi secara keseluruhan. Lebih lanjut, informasi akuntansi memungkinkan bagi organisasi untuk mengintegrasikan aktivitas organisasi.
Sementara itu, pengendalian organisasi adalah terkait dengan pengintegrasian aktivitas fungsional ke dalam sistem organisasi secara keseluruhan. Pengendalian organisasi diperlukan untuk menjamin bahwa organisasi  tidak menyimpang dari tujuan dan strategi organisasi yang telah diterapkan. Pengendalian organisasi memerlukan informasi yang lebih luas dibandingkan pengendalian keuangan. Informasi yang dibutuhkan lebih kompleks tidak sekedar informasi keuangan saja. Sebagai contoh dalam sebuah usulan investasi publik, informasi yang dibutuhkan untuk pengendalian keuangan adalah berupa prediksi aliran kas dan profitabilitas dari investasi tersebut. Sementara itu, untuk tujuan pengendalian organisasi dibutuhkan informasi yang lebih luas meliputi aspek ekonomi, sosial, dan politik dari investasi yang diajukan.
  1. Proses Perencanaan dan Pengendalian Manajerial Organisasi Sektor Publik
Perencanaan dan pengendalian pada dasarnya merupakan dua sisi dari mata uang yang sama, keduanya harus dipertimbangkan secara bersama-sama. Tanpa pengendalian perencanaan tidak akan berarti karena tidak ada tindak lanjut (follow up) utnuk mengidentifikasi apakah rencana organisasi telah dicapai. Sebaliknya, tanpa ada perencanaan, maka pengendalian tidak akan berarti karena tidak ada target atau rencana yang digunakan sebagai pembanding. Perencanaan dan pengendalian merupakan suatu proses yang membentuk suatu siklus, sehingga satu tahap akan terkait dengan tahap yang lain dan terintegrasi dalam satu manajerial pada organisasi sektor publik menjadi lima tahap, yaitu:
  • Perencanaan tujuan dan sasaran dasar
  • Perencanaan operasional
  • Penganggaran
  • Pengendalian dan pengukuran
  • Pelaporan, analisis, dan umpan balik



  1. Peran Akuntansi Manajemen Sektor Publik
            peran utama akuntansi manajemen dalam organisasi sektor publik adalah memberikan informasi akuntansi yang relevan dan handal kepada manajer untuk melaksanakan fungsi perencanaan dan pengendalian organisasi. Dalam organisasi sektor publik, perencanaan dimulai sejak dilakukannya perencanaan strategik, sedangkan pengendalian dilakukan terhadap pengendalian tugas (task control). Peran akuntansi manajemen dalam organisasi sektor publik meliputi:
1)      Perencanaan strategik;
2)      Pemberian informasi biaya;
3)      Penilaian investasi;
4)      Penganggaran
5)      Penentuan biaya pelayanan (cost of services) dan penentuan tarif pelayanan (charging for services); dan
6)      Penilaian kerja;
1)      Perencanaan Strategik
Akuntansi manajemen dibutuhkan sejak tahap perencanaan strategik. Pada tahap perencanaan strategik, manajemen organisasi membuat alternatif-alternatif program yang dapat mendukung strategi organisasi. Program-program tersebut diseleksi dan dipilih program yang dapat mendukung strategi organisasi. Peran akuntansi manajemen adalah memberikan informasi untuk menentukan berapa biaya program (cost of program) dan berapa biaya suatu aktivitas (cost of activity), sehingga berdasarkan informasi akuntansi tersebut manajer dapat menentukan berapa anggaran yang dibutuhkan dikaitkan dengan sumber daya yang dimiliki.
Manfaat perencanaan strategik bagi organisasi, antara lain:
  1. Sarana untuk memfasilitasi terciptanya anggaran yg efektif
  2. Sarana memfokuskan manajer pd pelaksanaan strategi yg ditetapkan
  3. Sarana untuk memfasilitasi dilakukannya alokasi sumber daya yg optimal
  4. Rerangka pelaksanaan short term action
  5. Sarana manajemen untuk memahami strategi organisasi scr lebih jelas
  6. Alat untuk memperkecil rentang alternatif strategi
2)      Pemberian Informasi Biaya
Biaya (cost) dalam konteks organisasi sektor publik dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu:
  • Biaya input. Biaya input adalah sumber daya yang dikorbankan untuk memberikan pelayanan. Biaya input bisa berupa biaya tenaga kerja dan biaya bahan baku.
  • Biaya output. Biaya output adalah biaya yang dikeluarkan untuk mengantarkan produk hingga sampai ke tangan pelanggan. Pada organisasi sektor publik output diukur dengan berbagai cara tergantung pada pelayanan yang dihasilkan. Sebagai misal untuk perusahaan transportasi massa, biaya mungkin diukur berdasarkan biaya per penumpang.
  • Biaya proses. Biaya proses dapat dipisahkan berdasarkan fungsi organisasi. Biaya diukur dengan mempertimbangkan fungsi organisasi, misalnya biaya departemen produksi, departemen personalia, biaya dinas-dinas, dan sebagainya.
Akuntansi manajemen sektor publik memiliki peran yang strategis dalam perencanaan finansial terkait dengan identifikasi biaya-biaya yang terjadi. Dalam hal ini, akuntansi manajemen sektor publik membutuhkan cost accounting untuk pengambilan keputusan biaya. akuntansi biaya pada sektor publik berperan untuk memberikan informasi mengenai pengeluaran publik yang dapat digunakan oleh pihak internal (pemerintah) dan pihak eksternal (masyarakat, DPRD, LSM, universitas, dan sebagainya) untuk perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan. Peran akuntansi manajemen dalam pemberian informasi biaya meliputi penentuan klafifikasi biaya, biaya apa saja yang masuk kategori biaya rutin (reccurent expenditure) dan yang masuk kategori biaya modal (capital expenditure), controllable dan uncontrollable, biaya tetap dan variabel, dan sebagainya. Informasi akuntansi manajemen diharapkan dapat membantu manajer publik dalam menentukan dan melaporkan biaya.
Akuntansi biaya pada sektor publik berperan memberikan informasi mengenai pengeluaran publik yang dapat digunakan oleh pihak internal (pemerintah) dan eksternal (masyarakat) untuk perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan.
Proses penentuan biaya meliputi 5 aktivitas :
  1. Cost finding
  2. Cost recording
  3. Cost analyzing
  4. Strategic cost reduction
  5. Cost reporting
3)      Penilaian Investasi
Akuntansi manajemen dibutuhkan pada saat organisasi sektor publik hendak melakukan investasi, yaitu untuk menilai kelayakan investasi secara ekonomi dan finansial. Akuntansi manajemen diperlukan dalam penilaian investasi karena untuk dapat menilai investasi diperlukan identifikasi biaya, risiko, dan manfaat atau keuntungan dari suatu investasi. Hal tersebut penting untuk menghindari dilakukannya investasi yang sebenernya tidak layak secara ekonomi dan finansial. Dalam penilaian suatu investasi, faktor yang harus diperhatikan oleh akuntansi manajemen adalah tingkat diskonto, tingkat inflasi, tingkat risiko, dan ketidakpastian (termasuk country risk dan political risk), dan sumber pendanaan untuk investasi yang akan dilakukan.
Penilaian investasi dalam organisasi publik dilakukan dengan menggunakan analisis biaya-manfaat (cost benefit analysis). Dalam praktiknya, terdapat kesulitan dalam menentukan biaya dan manfaat dari suatu investasi yang akan dilakukan. Hal tersebut karena biaya dan manfaat yang harus dianalisis tidak hanya dilihat dari sisi finansialnya saja akan tetapi harus mencangkup biaya sosial (social costs) dan manfaat sosial (social benefits) yang akan diperoleh dari investasi yang diajukan. Menentukan biaya sosial dan manfaat sosial dalam satuan moneter sangat sulit dilakukan. Oleh karena itu, penilaian investigasi dengan menggunakan analisis biaya-manfaat disektor publik sulit dilaksanakan. Untuk memudahkan, kemudian digunakan analisis efektisitas biaya (cost effektiveness analysis). Penilaian investasi dengan menggunakan analisis efektivitas biaya menekankan seberapa besar dampak (outcome) yang dicapai dari suatu proyek atau investasi dengan biaya tertentu.


4)      Penganggaran
Akuntansi manajemen berperan untuk memfasilitasi terciptanya anggaran publik yang efektif. Terkait dengan tiga fungsi anggaran, yaitu sebagai alat alokasi sumber daya publi, alat distribusi, dan stabilitasi, maka akuntansi manajemen merupakan alat yang vital utnuk proses mengalokasian dan mendistribusikan sumber dana publik secara ekonomis, efisien, efektif, adil dan merata. Untuk mencapai hal tersebut harus didukung dengan manajemen sumber daya manusia yang handal. Jika tidak akuntansi manajemen tidak akan banyak bermanfaat, karena akuntansi manajemen hanyalah merupakan alat manajemen (menejement tool) untuk merencanakan dan pengendalian.
5)      Penentuan Biaya Pelayanan (cost of services) dan Penentuan Tarif Pelayanan (charging for sevices)
Akuntansi manajemen digunakan untuk menentukan berapa biaya yang dikeluarkan untuk memberikan pelayanan tertentu dan berapa tarif yang akan dibebankan kepada pemakai jasa pelayanan publik, termasuk menghitung subsidi yang diberikan. Tuntunan agar pemerintah meningkatkan mutu pelayanan dan keluhan masyarakat akan besarnya biaya pelayanan merupakan suatu indikasi perlunya perbaikan sistem akuntansi manajemen sektor publik. Masyarakat menghendaki pemerintah memberikan pelayanan cepat, berkualitas, dan murah. Pemerintah yang berorientasi pada pelayanan publik harus merespon keluhan, tuntutan, dan keinginan masyarakat tersebut agar kualitas hidup masyarakat menjadi semakin baik dan kesejahteraan masyarakat meningkat.
Penentuan biaya pelayanan (cost of services) dan penentuan tarif pelayanan (charging for services) merupakan suatu rangkaian yang keduanya sama-sama membutuhkan informasi akuntansi. Sebagai contoh, pemerintah daerah harus menentukan berapa biaya untuk membangun terminal bus atau stasiun kereta api yang tertib, nyaman, dan aman serta biaya orerasionalnya. Berdasarkan informasi biaya tersebut, pemerintah setempat dapat menentukan berapa tarif pelayanan yang akan dibebankan kepada pemakai jasa pelayanan terminal atau stasiun kereta api tersebut. Perusahaan air minum milik pemerintah daerah harus dapat mengidentifikasikan biaya-biaya apa saja yang terjadi diperusahaan, sehingga berdasarkan informasi biaya tersebut  dapat ditentukan tarif harga per meter kubik kepada pelanggannya dan dapat dilakukan efisiensi agar perusahaan tidak merugi. Dengan informasi akuntansi manajemen, sumber-sumber inefisiensi di organisasi dapat dideteksi dan dihilangkan.
6)      Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja merupakan bagian dari sistem pengendalian. Penilaian kinerja dilakukan untuk mengetahui tingkat efisiensi dan efektifitas organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam tahap penilaian kinerja, akuntansi manajemen berperan dalam pembuatan indikator kinerja kunci (key performance indicator) dan satuan ukur untuk masing-masing aktivitas yang dilakukan.























BAB III
PENUTUP

1.                                                         Kesimpulan
Akuntansi manajemen sektor publik memiliki kaitan erat dengan sistem pengendalian manajemen sektor publik. Sistem pengendalian manajemen sektor publik memiliki dua komponen, yaitu proses pengendalian manajemen dan struktur pengendalian manajemen. Proses pengendalian manajememn melibatkan beberapa aktivitas, yaitu perencanaan, koordinasi, komunikasi informasi, pengembalian keputusan, motivasi, pengendalian, dan penilaian kinerja. Struktur pengendalian manajemen terkait dengan desain struktur organisasi yang tercermin dalam bentuk pusat-pusat pertanggung jawaban. Akuntansi manajemen sektor publik berfungsi sebagai penyedia informasi untuk pengambilan keputusan ekonomi, sosial dan politik. Akuntansi manajemen juga berfungsi membantu memberi informasi untuk perencanaan dan pengendalian bagi manajer publik. Akuntansi manajemen dalam organisasi sektor publik berperan untuk merencanakan strategi, memberikan informasi biaya (cost of services) dan tarif pelayanan (charging for services).















Daftar Pustaka
Mardiasmo, 2002. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi Yogyakarta.
http://id.wikipedia.org/wiki/Akuntansi_Manajemen_Publik
http://www.managementaccountingsystems.com/37/definisi-peran-dan-tujuan-akuntansi-manajemen-sektor-publik.htm


Saturday, April 16, 2016

MAKALAH HARGA POKOK PRODUK BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN

MAKALAH
HARGA POKOK PRODUK BERSAMA DAN
PRODUK SAMPINGAN
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akuntansi Biaya


Dosen Pengampu :
Maya Widyana Dewi , SE.MM
Disusun Oleh :
1.      Imam Buchori                                                       (2014DA027)
2.      Oni Monika                                                           (2014DA037)
3.      Risa Ristanti                                                          (2014SA059)




              SEKOLAH TINGGI IMU EKONOMI – AAS

                                 SURAKARTA

                                          2015




BAB 1
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
            Dalam bab–bab terdahulu telah diuraikan perhitungan harga pokok produk dalam perusahaan yang menghasilkan satu macam produk dari proses produksinya. Produk tersebut diproduksi berdasarkan pesanan ( dalam metode harga pokok pesanan ) dan di produksinya secara massa (dalam metode harga pokok proses ). Dalam proses produksi perusahaan tertentu, seringkali kita jumpai pengolahan satu atau beberapa macam bahan baku dalam satu proses produksi dapat menghasilkan dua jenis produk atau lebih. Perusahaan penggilingan gabah misalnya , mengolah bahan baku berupa gabah dan menghasilkan lebih dari satu macam produk berupa ; beras, menir, katul, dan dedak. Perusahaan gas asam arang mengolah deisel fuel menjadi gas asam arang (CO²) berusaha gas dan gas asam arang padat (dry ice). Perusahaan minyak mengolah minyak mentah menjadi bensin, minyak tanah , oli dan produk dari minyak yang lain. Dalam perusahaan semacam ini, karena berbagai produk yang dihasilkan tesebut berasal dari proses pengolahan bahan baku yang , timbul masalah pengalokasian biaya bersama (joint cost) kepada berbagai produk yabg dihasilkan tersebut. Biaya bersama ini dikumpulkan dengan metode harga pokok proses atau metode harga pokok pesanan , tergantung dari sifat produksinya. Alokasi biaya bersama kepada produk bersama kepada produk bersama ini terutama ditujukan untuk penentuan laba dan penentuan harga pokok persediaan.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian produk bersama dan produk sampingan?
2.      Apa saja karakterisitik produk bersama dan produk sampingan?
3.      Apa saja metode yang digunakan untuk mengalokasikan biaya produk bersama?

C.    TUJUAN
1.      Mendiskripsikan pengertian produk bersama dan sampingan.
2.      Mendiskripsikan macam-macam karakteristik produk bersama dan produk sampingan.
3.      Mendiskripsikan macam-macam metode yang digunakan untuk mengalokasikan biaya produk bersama





BAB II
PEMBAHASAN
A.      PENGERTIAN
Produk bersama adalah beberapa produk yang diproduksi secara bersamaan dengan menggunakan bahan baku, tenaga kerja, dan overhead pabrik dan akan menghasilkan jenis-jenis produk bersama dalam perbandingan-perbandingan tertentu. Produk sampingan adalah produk yang dihasilkan dari proses produk bersama tetapi produk ini nilainya relatif lebih rendah dibanding produk utama.
Biaya bersama ialah biaya overhead bersama yang harus dialokasikan ke berbagai departemen, baik dalam perusahaan yang kegiatan produksinya berdasarkan pesanan maupun massal. Biaya produk bersama adalah biaya yang dikeluarkan sejak saat mula-mula bahan baku diolah sampai dengan saat berbagai macam produk dapat dipisahkan identitasnya.
Pengertian pertama biaya bersama tersebut disebut biaya bergabung. Biaya bergabung adalah biaya-biaya untuk memproduksi dua/lebih produk yang terpisah dengan fasilitas sama pada saat yang bersamaan. Biaya bergabung tidak meliputi biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Sedangkan pengertian kedua disebut biaya bersama.
Biaya bergabung dan biaya bersama dapat dibedakan ditinjau dari sudut alokasinya. Dasar yang dipakai untuk mengalokasikan biaya bergabung harus menggambarkan aliran biaya tersebut dalam proses produksi / kepada produk. Dalam alokasi biaya bersama, dasar yang dipakai untuk alokasi tidak menggambarkan aliran biaya bersama tersebut ke dalam produk.
Biaya bersama dikeluarkan untuk mengolah bahan baku menjadi berbagai macam produk yang dapat berupa :
·         Produk bersama (joint product) : dua produk atau lebih yang diproduksi secara ’serentak dengan serangkaian proses atau dengan proses gabungan.
·         Produk sampingan (by-product) : satu produk atau lebih yang nilai jualnya relatif rendah,yang diproduksi bersama dengan produk lain yang nilai jualnya tinggi.
·         Produk sekutu (co-product) : dua produk atau lebih yang diproduksi pada waktu yang bersamaan, tetapi tidak dari kegiatan pengolahanyang sama atau tidak berasal dari bahan baku yang sama.
B.     Karakteristik Produk Bersama dan Produk Sampingan
Karakteristik Produk Bersama :
a)      Merupakan produk-produk utama yang dihasilkan dengan sengaja sesuai dengan tujuan produksi, melalui suatu proses atau serangkaian proses dan dilakukan secara simultan.
b)      Nilai penjualan adalah relatif lebih besar bila dibandingkan dengan produk-produk sampingan yang dihasilkan, dan relatif sama diantara produk-produk umum.
c)      Biasanya dihasilkan dalam jumlah unit atau kuantitas yang besar.
d)     Seringkali memerlukan pengolahan lebih lanjut dan pembungkusan.
e)      Salah satu produk tidak dapat dihasilkan tanpa memproduksi yang lain.
KarakteristikProduk Sampingan :
a)      Dihasilkan bersama dengan produk utama dalam suatu proses atau serangkaian proses tanpa dimaksudkan untuk membuat produk ini.
b)      Nilai penjualan adalah relatif lebih kecil atau tidak berarti, bila dibandingkan dengan produk-produk utama.
c)      Dihasilkan dalam jumlah unit atau kuantitas yang lebih sedikit.
d)     Kadang-kadang memerlukan pengolahan lebih lanjut dan pembungkusan.
e)      Produk ini tidak dapat dihasilkan tanpa memproduksi produk-produk utama.

C.    AKUNTANSI PRODUK BERSAMA
Perusahaan yang menghasilkan produk bersama pada umumnya menghadapi masalah pemasaran produknya, karena masing-masing produk memiliki masalah pemasaran dan harga jual yang berbeda. Manajemen biasanya ingin mengetahui kontribusi masing-masing produk terhadap pendapatan perusahaan. Untuk itu, perlu diketahui seteliti mungkin bagian dari seluruh biaya produksi yang dibebankan kepada masing-masing produk bersama.
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengalokasikan biaya bersama kepada tiap-tiap produk bersama, antara lain :

1.         Metode Nilai Jual Relatif
Metode ini menggunakan dasar pemikiran bahwa harga jual suatu produk merupaka perwujudan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam mengolah produk tersebut. Jika salah satu produk terjual lebih tinggi daripada produk lain, hal ini karena biaya yang dikeluarkan oleh produk tersebut lebih banyak bila dibandingkan dengan produk lain.
Contoh 1 :
PT Jaya mengeluarkan biaya bersama yang digunakan untuk memproduksi barang A, B, dan C sebesar Rp 20.000.000,00. Jumlah produksi dan harga jual masing-masing produk tersaji dalam tabel di bawah ini :
Produk
Jmh produk
Harga/Kg
A
6000
3000
B
8000
4000
C
10000
5000
Bagaimana alokasi biaya bersama dengan metode nilai jual relatif ?
Jawab :
PRODUK
JML PRODUK
HARGA/KG
NILAI JUAL
NILAI JUAL RELATIF(%)
ALOKASI BIAYA BERSAMA
HARGA PRODUK BERSAMA PER KG
1
2
3
4
5
6



 (1 x 2)
(3/100.000.000 x 100 %) 
 (4 x 20.000.000)
 (5 : 1)
A
6.000
3.000
18.000.000
18%
3.600.000
600
B
8.000
4.000
32.000.000
32%
6.400.000
800
C
10.000
5.000
50.000.000
50%
10.000.000
1.000

24.000

100.000.000
100%
20.000.000
2.400








Variasi penggunaan metode nilai jual relatif seperti apabila satu atau beberapa produk bersama  memerlukan biaya pengolahan tambahan setelah saat terpisah (split-off). Nilai jual diketahui setelah produk diolah lebih lanjut. Namun, pada saat terpisah produk bersama belum memiliki nilai jual. Untuk itu, perlu dihitung nilai jual hipotesis yaitu mengurangi nilai jual produk bersama yang telah diolah lebih lanjut dengan biaya yang dikeluarkan untuk pengolahan produk saat terpisah.




Contoh 2 :
PT Hans mengeluarkan biaya bersama sebesar Rp 10.000.000,00 untuk memproduksi barang A, B, dan C. Setelah terpisah produk B dan C memerlukan biaya tambahan (separable cost) masing-masing sebesar Rp 400,00/kg dan Rp 300,00/kg. Dengan jumlah produk dan harga produk tercantum pada tabel di bawah ini :
Produk
Jmh produk
Harga/Kg
A
4000
2000
B
5000
3000
C
6000
4000
Bagaimana alokasi biaya bersama dengan mempertimbangkan biayayang dikeluarkan saat produk bersama terpisah ?
Jawab :

Soal alokasi biaya bersama dengan mempertimbangkan biaya yang dikeluarkan saat
produk bersama Terpisah
PT.HANS

PRODUK
HARGA/KG
BIAYA PENGOLAHAN PER KG SETELAH SAAT TERPISAH
NILAI JUAL HIPOTESIS
JUMLAH YG DI PRODUKSI
NILAI JUAL HIPOTESIS X JUMLAH YG DIPRODUKSI
NILAI JUAL HIPOTESIS RELATIF (%)
ALOKASI BIAYA BERSAMA
HARGA POKOK PER KG



1
2
3
4
5
6
7
8





(1-2)

(3 X 4 )
(5 : 43200000 x 100 %)
6 X 10000000
7 :4 (Rp)


A
2.000

2.000
4.000
8.000.000
19%
1.900.000
475


B
3.000
400
2.600
5.000
13.000.000
30%
3.000.000
600


C
4.000
300
3.700
6.000
22.200.000
51%
5.100.000
850



9.000
700
8.300
15.000
43.200.000
100%
10.000.000
1.925




2.         Metode Satuan Fisik
Metode satuan fisik mencoba menentukan harga pokok produk bersama sesuai dengan manfaat yang ditentukan oleh masing-masing produk akhir. Metode ini menghendaki bahwa produk bersama yang dihasilkan harus dapat diukur dengan satuan ukuran pokok yang sama. Jika produk bersama mempunyai satuan ukuran yang berbeda, harus ditentukan koefisien ekuivalensi yang digunakan untuk mengubah berbagai satuan tersebut menjadi satuan yang sama.
Contoh 3 :
PT ABC menghabiskan 10.000 kg tebu untuk diproduksi. Hasil produksi tersebut dikurangi dengan kerugian sebanyak 200 kg akibat hilang dalam proses. Dengan harga pokok bahan baku yang dipakai adalah sebesar Rp 12.000.000,00. Hasil produksi tampak pada tabel di bawah ini :
Produk
Kuantitas/kg
Gula
4000
Vetsin
3000
Produk lainnya
3000
Jumlah
10000
Bagaimana alokasi biaya bersama dengan metode satuan fisik ?
Jawab :
PRODUK
KUANTITAS/KG
PERSENTASE
ALOKASI BAHAN POKOK BAHAN BAKU

 1


 (1/10.000 x 100%)
(2 x 12.000.000) 
GULA
4.000
40%
4.800.000
VETSIN
3.000
30%
3.600.000
PRODUK LAINNYA
3.000
30%
3.600.000
JUMLAH
10.000
100%
12.000.000
PRODUK YG HILANG DALAM PROSES
200



10.200




3.         Metode Rata-Rata Biaya per Satuan
Metode ini hanya dapat digunakan bila produk bersama yang dihasilkan diukur dalam satuan yang sama. Pokok pikiran yang mendasari pemakaian metode ini adalah karena semua produk dari proses yang sama, harga pokok masing-masing produk dihitung sesuai dengan proporsi kuantitas yang diproduksi.
Contoh 4 :
PT. Meubel Jaya menghasilkan berbagai macam perabotan dari kayu seperti
meja, kursi, pintu dan produk lainnya. Untuk memproduksi produk bersama tersebut mengeluarkan biaya bersama sebesar Rp 40.000.000,00 dengan jumlah produk yang dihasilkan adalah 1.000.000 m3 dengan rata-rata biaya per 1000m3 adalah sebesar Rp 40.000,00 (Rp 40.000.000,00/1000). Berikut data produk beserta kuantitasnya:
Produk
Kuantitas/kg
Meja
240000
Kursi
360000
Meja
240000
Produk  lainnya
160000
Jumlah
1000000
Bagaimana alokasi biaya bersama dengan metode biaya rata-rata ?
Jawab :
PRODUK
KUANTITAS YG DIPRODUKSI
RATA2 BIAYA PER 1000 M³
HARGA POKOK PRODUK
1
2
3
(1 x 2 : 1000)
MEJA
240.000
40.000
9.600.000
KURSI
360.000
40.000
14.400.000
MEJA
240.000
40.000
9.600.000
PRODUK LAINNYA
160.000
40.000
6.400.000
JUMLAH
1.000.000

40.000.000









4.         Metode Rata-Rata Tertimbang
Dalam metode ini kuantitas produksi dikalikan dengan angka penimbang dan hasil kalinya baru dipakai sebagai dasar alokasi. Angka penimbangnya berdasarkan jumlah bahan yang dipakai, sulitnya pembuatan produk, waktu yang dikonsumsi dan pembedaanjenis tenaga kerja yang dipakai tiap jenis produk.
Contoh 5 :

Biaya bersama yang dikeluarkan sebuah perusahaan untuk memproduksi produk
bersama adalah sebesar Rp 8.500.000,00. Jumlah produk yang dihasilkan dan angka penimbangnya adalah sebagai berikut :
Produk
Jmh produk
Angka Penimbang
A
6000
1
B
5000
2
C
4000
3

15000

Bagaimana alokasi biaya bersama dengan metode rata-rata tertimbang :
Jawab :
PRODUK
JUMLAH PRODUK YG DIPRODUKSI
ANGKA PENIMBANG
JUMLAH ANGKA YG DI PRODUKSI * ANGKA PENIMBANG
ALOKASI BIAYA BERSAMA

 1



(1 x 2 ) 
(3 : 28.000 x 8.500.000) 
A
6.000
1
6.000
1.821.429
B
5.000
2
10.000
3.035.714
C
4.000
3
12.000
3.642.857

15.000

28.000
8.500.000







D.    AKUNTANSI PRODUK SAMPINGAN
Dalam uraian tentang produk bersama telah dibahas mengenai bagaimana mengalokasikan biaya bersama ke berbagai produk bersama. Dalam produk sampingan titik berat pembahasannya adalah bagaimana memperlakukan pendapatan penjualan produk sampingan tersebut. Alokasi produk bersama kepada produk utama dan produk sampingan pada umumnya dianggap tidak perlu. Karena nilai produk sampingan relatif rendah bila dibandingkan dengan produk utama. Ada beberapa metode untuk mengalokasikan biaya bersama yang digunakan untuk memperlakukan produk sampingan :
1.      Metode tanpa harga pokok yaitu metode yang tidak mencoba menghitung harga pokok produk sampingan atau persediannya.
2.      Metode harga pokok yaitu metode yang mencoba mengalokasikan sebagian biaya bersama kepada produk sampingan dan menentukan harga pokok persediaan produk atas dasar yang dialokasikan tersebut.

1.      Metode-Metode Tanpa Harga Pokok
Berikut ini diuraikan beberapa metode perlakuan terhadap pendapatan penjualan produk sampingan :
·         Pendapatan penjualan produk sampingan diperlakukan sebagai penghasilan di luar usaha.
·         Pendapatan penjualan produk sampingan diperlakukan sebagai tambahan pendapatan penjualan produk utama.
·         Pendapatan penjualan produk sampingan diperlakukan sebagai pengurang harga pokok penjualan.
·         Pendapatan penjualan produk sampingan diperlakukan sebagai pengurang total biaya produksi.
Pendapatan Penjualan Produk Sampingan Diperlakukan sebagai Pendapatan di Luar Usaha.          Pendapatan yang diperoleh dari penjualan produk sampingan dikurangi dengan penjualan returnya dicatat dalam rekening “Pendapatan Penjualan Produk Sampingan” dan pada periode akhir periode akhir akuntansi ditutup ke rekening Rugi Laba.
Metode ini cocok digunakan dalam perusahaan yang :
a.       Nilai produk sampingannnya tidak begitu penting atau tidak dapat ditentukan.
b.      Penggunaan metode yang lebih teliti memerlukan biaya yang tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh.
c.       Saat terpisahnya produk sampingan dari produk utama tidak begitu jelas dan pembebanan harga poko produk sampingan kepada produk utama tidak mengakibatkan perbedaan yang mencolok pada harga pokok produk utama.
Keberatan penggunaan metode ini adalah
a.       Apabila pada akhir periode akuntansi terdapat persediaan produk sampingan maka timbul masalah penilaian persediaan untuk tujuan pembuatan neraca perusahaan.
b.      Dapat mengakibatkan penandingan pendapatan dengan biaya tidak dalam periode yang tepat.
c.       Tidak adanya pengawasan terhadap persediaan produk sampingan, sehingga hal ini membuka kesempatan untuk terjadinya penggelapan terhadap produk sampingan tersebut.
d.      Meskipun nilai jual produk sampingan kecil,tetapi kalau pendapatan penjualannya dilaporkan sebagai penghasilan di luar usaha.
Metode Nilai Pasar atau Reversal Cost Method. Metode ini mencoba menaksir biaya produk sampingan dengan titik tolak dari nilai pasarnya. Metode ini hampir sama dengan metode tanpa harga pokok pendapatan penjualan produk sampingan diperlakukan sebagai pengurang total biaya produksi, tetapi ada sedikit perbedaan, yaitu pada metode tanpa harga pokok pendapatan penjualan produk sampingan diperlakukan sebagai pengurang total biaya produksi yang dikurangkan dari total biaya produksi adalah pendapatan penjualan produk sampingan yang sesungguhnya, sedangkan pada metode nilai pasar yang dikurangkan adalah taksiran nilai produk sampingan.
Contoh :
Perusahaan XYZ memproduksi produk utama sebanyak 800 buah
dan produk sampingan sebanyak 100 buah. Produk sampingan jika dijual akan laku sebesar Rp 400/buah. Biaya bersama yang dikeluarkan sebanyak Rp1.500.000. hitunglah harga pokok utama dan produk sampingannya, jika diketahui data yang lain sbb :
a.       Taksiran laba bruto adalah 10% dari pendapatan penjualan produk sampingan
b.      Taksiran biaya pemasaran adalah 5% dari pendapatan penjualan produk sampingan
c.       Biaya pengolahan produk sampingan setelah pemisahan sebesar Rp 10.000






Jawab :
KETERANGAN PRODUK

PRODUK UTAMA

PRODUK SAMPINGAN
Biaya bersama




1.500.000


Taksiran pendapatan penjualan produk sampingan (100 x Rp 400)






40.000
dikurangi dengan :







Taksiran laba bruto (10% x penjualan )





4.000

Taksiran biaya pemasaran (5% x harga penjualan )





2.000

Biaya produk sampingan setelah pemisah





10.000








16.000
Taksiran biaya produk pada saat terpisah






24.000
Taksiran biaya tambahan setelah produk sampingan terpisah dari produk utama






10.000
harga pokok produk sampingan






34.000
nilai produk sampingan yang harus dikurangkan dari biaya bersama (taksiran biaya produk sampingan pada saat terpisah )
24.000




harga pokok produk utama




1.476.000










harga pokok produk utama per satuan


1.476.000
: 800
1.845










harga pokok produk sampingan per satuan


34.000
: 100
340




            Metode Harga Pokok
·         Metode Biaya Pengganti (Replacement Cost method)
Metode ini biasanya digunakan dalam perusahaan yang produk sampingannya dipakai dalam pabrik sebagai bahan baku atau bahan penolong. Harga pokok yang diperhitungkan dalam produk sampingan adalah sebesar harga beli atau biaya pengganti yang berlaku dipasar. Jumlah ini kemudian dikreditkan pada rekening barang dalam proses Biaya Bahan Baku, sehingga mengurangi biaya produksi produk utama. Pengurangan biaya produksi produk utama ini akan mengakibatkan harga pokok per satuan persediaan produk utama menjadi lebih rendah.
Contoh :
jumlah biaya produksi untuk 36.000 kg produk utama                      Rp    54.000
pendapatan penjualan produk utama 30.000xRp 6                            Rp  180.000
biaya pengganti produk sampingan yang digunakan dalam
pengolahan produk utama                                                                   Rp      3.600
biaya pemasaran dan adm & umum                                                    Rp      8.000
persediaan akhir produk utama                                                           6.000 Kg
buatlah laporan laba rugi dengan metode biaya pengganti dalam perlakuan terhadap produk sampingan !

Jawab :
LAPORAN LABA RUGI DENGAN METODE BIAYA PENGGANTI
Pendapatan penjualan produk utama
180.000
harga pokok penjualan :
biaya produksi (36.000 x Rp 1,5 )
54.000
Dikurangi : biaya pengganti produk sampingan
-3.600
50.400
Dikurangi: persediaan akhir 6000 kg x Rp 1,4*
-8.400
42.000
Laba bruto
138.000
biaya pemasaran dan administrasi & umum
-8.000
Laba bersih sebelum PPh
130.000
*Rp 50.400  : 36.000














BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Biaya produk bersama adalah biaya yang dikelurakan sejak saat mula-mula bahan baku diolah sampai dengan saat berb agai macam produk dapat dipisahkan identitasnya sedangkan produk sampingan adalah satu produk atau lebih yang nilai jualnya relattif lebih rendah, yang di produksi bersama dengan produk yang lain yan g nilai jualnya lebih tinggi. Jadi perbedaan produk bersama dengan produk sampingan didasarkan pada nilai jual relatifnya





















Daftar Pustaka
Mulyadi.2010.Akuntansi biaya.Yogyakarta:Ykpn